NIA

Foto saya

Hidup itu pilihan.😉😉😉 Kita bisa memilih fokus ke hal-hal yang membuat kita khawatir, atau fokus ke hal-hal yang membentuk hidup baru. Karena kita tidak memiliki energi yang cukup untuk melakukan dua-duanya. Kita bisa hancur karena khawatir, atau akhirnya memilih untuk menghancurkan kekhawatiran.

Jumat, 22 April 2016

RPP Faktor-faktor penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah




KURIKULUM 2013
Perangkat Pembelajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN  (RPP)



Nama Sekolah                    :   _______________________________

Kelas / Semester                 :  


Nama Guru                        :   _______________________________

NIP / NIK                           :   _______________________________





Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran                      : Sejarah Kebudayaan Islam
Satuan Pendidikan                : MTs
Kelas / Semester                    : VIII / Genap

A.           Kompetensi Inti          
KI 1  :   Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2  :   Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
KI 3  :   Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI 4  :   Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B.            Kompetensi Dasar dan Indikator
3.1         Menganalisis faktor-faktor  runtuhnya dinasti Abbasiyah
3.1.1   Mencermati bacaan teks tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah
3.1.2   Mendiskusikan faktor-faktor penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah
3.1.3   Mempresentasikan/menyampaikan hasil diskusi tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah

C.           Tujuan Pembelajaran
1.             Peserta didik mampu mencermati bacaan teks tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah
2.             Peserta didik mampu mendiskusikan faktor-faktor penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah
3.             Peserta didik mampu mempresentasikan/menyampaikan hasil diskusi tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah

D.           Materi Pembelajaran
Faktor-faktor penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah

E.            Metode Pembelajaran
1.            Pendekatan        : Saintifik (mengamati, menanya, mencoba, menalar da mengkomonikasikan).        
2.            Metode   :
a.       Ceramah
b.      Tanya Jawab
c.       Diskusi
d.      Penugasan
3.            Strategi   :  Guide Note Taking (Catatan Terbimbing)

F.            Media, dan Sumber Belajar
1.            Media    
a.       Laptop, CPU
b.      LCD Projector
c.       Karton
2.            Sumber Belajar
a.       Buku Ajar Fokus Sejarah Kebudayaan Islam kelas XI Kurikulum 2013
b.      Buku paket
c.       Al-Quran dan terjemahannya
d.      Referensi lain yang relevan
e.       Internet (jika tersedia)


G.           Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan
Kegiatan
Alokasi Waktu
Pertemuan Pertama
1.       Pendahuluan
a.     Membuka pembelajaran dengan salam dan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat;
b.     Memulai pembelajaran dengan membaca al-Qur’an surah pendek pilihan dengan lancar dan benar (nama surat sesuai dengan program pembiasaan yang ditentukan sebelumnya);
c.     Memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran;
d.    Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan yang akan dicapai;
e.     Menyampaikan tahapan kegiatan yang meliputi kegiatan mengamati, menyimak, menanya, berdiskusi, mengkomunikasikan dengan menyampaikan, menanggapi dan membuat kesimpulan hasil diskusi
f.      Pembagian kelompok. (2 kelompok besar)
5 Menit



2.      Kegiatan Inti
a.     Mengamati
1)      Peserta didik mengamati dan menyimak materi melalui media LCD Proyektor
2)      Peserta didik mengamati materi tentang factor-faktor penyebab  runtuhnya Bani Abbasiyah. Baik secara kelompok maupun individual.
b.     Menanya
1)      Dengan dimotivasi oleh guru, peserta didik  mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang terkait dengan faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah
2)      Peserta didik saling bertanya tentang  faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah.

c.         Mengumpulkan data/eksplorasi
1)        Secara berkelompok, peserta didik mendiskusikan faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah dengan strategi yang sudah disampaikan.

d.        Mengasosiasi
Membuat kesimpulan tentang  faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah.

e.         Mengkomunikasikan
1)      Mempresentasikan /menyampaikan hasil diskusi tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Bani Abbasiyah.
2)      Menanggapi hasil presentasi (melengkapi, mengkonfirmasi, menyanggah)
10 menit

3.      3.    Penutup
a.       Melaksanakan penilaian dan refleksi dengan mengajukan pertanyaan atau tanggapan kepada peserta didik
b.      Klarifikasi/ kesimpulan dibantu oleh guru
c.       Guru memberikan penguatan terhadap materi yang didiskusikan (kegiatan konfirmasi).
d.      Mengucapkan salam.
5 menit
H.                Penilaian
1.                  Pengamatan Sikap
a.                   Format Penilaian Individu
No
Nama Siswa
Aktifitas
Skor
Kerjasama
Keaktifan
Partisipatif
Inisiatif
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

b.                   Rubrik Penilaian
No
Indikator Penilaian
Skor
1
Kerjasama
Belum memperlihatkan kerjasama dengan teman satu kelompok
1
Mulai memperlihatkan kerjasama dengan teman satu kelompok
2
Mulai berkembang  kerjasama dengan teman satu kelompok
3
Mulai membudayakan  kerjasama dengan teman satu kelompok
4
2
Keatifan
Belum memperlihatkan Keatifan dengan teman satu kelompok
1
Mulai memperlihatkan Keatifan dengan teman satu kelompok
2
Mulai berkembang  Keatifan dengan teman satu kelompok
3
Mulai membudayakan  Keatifan dengan teman satu kelompok
4
3
Partisipatif
Tidak mau menghargai pendapat orang lain dan menyampaikan pendapatnya dengan bahasa yang kurang santun
1
Kurang dapat menghargai pendapat orang lain dan kurang santun
2
Menghargai orang lain namun kurang santun dalam menanggapi pendapat
3
Menghargai orang lain dan menanggapi pendapat dengan santun
4
4
Inisiatif
Belum memperlihatkan inisiatif
1
Mulai memperlihatkan inisiatif
2
Mulai berkembang inisiatif
3
Mulai membudayakan inisiatif
4


NIlai Akhir =  X 100

2. Format Penilaian “Kembangkan Pikiranmu” (Berdiskusi-Menemukan Peristiwa)
a.         Format Penilaian
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Maks
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
1
2
3
T
TT
R
P
           
b.         Aspek dan rubrik penilaian:
1.            Kejelasan dan kedalaman informasi.
a.       Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan kedalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 30.
b.      Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi lengkap dan  kurang sempurna, skor 20.
c.       Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi kurang lengkap, skor 10.
2.            Keaktifan dalam diskusi.
a.       Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi skor 30.
b.      Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi skor 20.
c.       Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi skor 10.
3.            Kejelasan dan kerapian presentasi.
a.       Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi, skor 40.
b.      Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi, skor 30.
c.       Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 20.
d.      Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan  tidak rapi, skor 10.

NIlai Akhir =  X 100

3.      Format Penilaian Berlatihlah
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
1
2
3
T
TT
R
P

 Aspek dan rubrik  penilaian kelompok:
No
Indikator Penilaian
Skor
1
Kedislipinan
Tepat waktu dalam penyerahan tugas
26-30
Terlambat dalam penyerahan tugas
10-25
2
Antusiasme
Sangat antusias mengerjakan tugas
26-30
Biasa saja dalam mengerjakan tugas
16-25
Enggan dalam melaksanakan tugas
10-15
3
Kejelasan dan kerapihan hasil tugas
Hasil tugas yang diserahkan sangat rapi dan jelas
31-40
Hasil tugas yang diserahkan cukup dan jelas
21-30
Hasil tugas yang diserahkan tidak rapi dan asal-asalan
10-20

NIlai Akhir =  X 100




Mengetahui
Kepala Sekolah,


( ___________________ )
NIP .................................

......, ........................ 20 .....
Guru Kelas


( ___________________ )
NIP ..................................













Faktor-faktor Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

A.           Faktor Internal
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, sehingga benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut
1.             Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam.


Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka di diangkat menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami.
Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki semakin kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk, bangsa Turki pada periode keempat (447-590H).
2.             Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri
Wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga masa keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Walaupun dalam kenyataannya banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan gubernur-gubernur bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan pembayaran upeti.
Ada kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal, dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki. Akibatnya propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
a)             Yang berkembangsaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254-290 H), Samaniyah di Transoxania (261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai Baghdad (320-447).
b)             Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan (352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
c)             Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
d)            Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
e)             Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir. 
3.             Kemerosotan Perekonomian
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
4.             Konflik Keagamaan
Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka kekecewaan itu mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah.
Khalifah Al-Manshur yang berusaha keras memberantasnya, beliau juga memerangi Khawarij yang mendirikan Negara Shafariyah di Sajalmasah pada tahun 140 H. Setelah al Manshur wafat digantikan oleh putranya Al-Mahdi yang lebih keras dalam memerangi orang-orang Zindiq bahkan beliau mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan mereka serta melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.
Selain itu terjadi juga konflik dengan aliran Islam lainnya seperti perselisihan antara Ahlusunnah dengan Mu'tazilah, yang dipertajam oleh al-Ma'mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan ahlusunnah kembali naik daun. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut paham Asy'ariyyah penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa, aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya.

B.            Faktor Eksternal
Selain yang disebutkan diatas, yang merupakan faktor-faktor internal kemunduran dan kehancuran Khilafah bani Abbas. Ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
1.             Perang Salib
Kekalahan tentara Romawi telah menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap ummat Islam. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Saljuk yang menguasai Baitul Maqdis menerapkan beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.
Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau periode telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre.
2.             Serangan Mongolia ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah
Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). 
Sebagai awal penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil. Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum kepada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan. Tetapi Khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Maka pada Januari 1258, Hulagu khan menghancurkan tembok ibukota. Sementara itu Khalifah al-Mu’tashim langsung menyerah dan berangkat ke base pasukan mongolia. Setelah itu para pemimpin dan fuqaha juga keluar, sepuluh hari kemudian mereka semua dieksekusi. Dan Hulagu beserta pasukannya menghancurkan kota Baghdad dan membakarnya. Pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang. Dan Dengan terbunuhnya Khalifah al-Mu’tashim telah menandai babak akhir dari Dinasti Abbasiyah.


KESIMPULAN

Dari uraian masalah di atas, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 
1. Kemunduran dinasti Abbasiyah, secara umum disebabkan oleh dua faktor; Internal dan Eksternal. Secara internal dapat dirinci sebagai berikut:
a)      Tampilnya penguasa lemah yang sulit mengendalikan wilayah yang sangat luas ditambah sistem komunikasi yang masih sangat lemah dan belum maju menyebabkan lepasnya daerah satu per satu.
b)      Kecenderungan para penguasa untuk hidup mewah, mencolok dan berfoya-foya kemudian diikuti oleh para hartawan dan anak-anak pejabat ikut menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.
c)      Dualisme pemerintahan, secara de jure dipegang oleh Abbasiyah, tetapi secara de facto digerakkan oleh oleh tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh al-mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan. 
d)     Praktek korupsi oleh penguasa diiringi munculnya nepotisme yang tidak profesional di berbagai propinsi. 
e)      Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma’mun secara jelas membagi Abbasiyah dalam dua kubu, yaitu kubu Arab dan Persia, Pertentangan antara Arab-non Arab, perselisihan antara muslim dengan non-muslim, dan perpecahan di kalangan umat Islam sendiri.
Secara eksternal disebabkan oleh karena Abbasiyah menghadapi perlawanan yang sangat gencar dari dunia luar. Pertama, mereka mendapat serangan secara tidak langsung dari pasukan Salib di Barat. Kedua, serangan secara langsung dari orang Mongol yang berasal dari Timur ke wilayah kekuasaan Islam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar